Harapan dan Mimpi Anak Sei Nahodaris


Feature Tema Pendidikan

Satu persatu kursi plastik diangkat ke ruang yang lebih besar. Wajah penuh kegembiraan kontras dengan ruangan yang penuh lumpur dan kumuh. Jejak kaki berlumpur banyak tercetak di lantai semen yang mulai terpecah pecah. Sebentar saja anak- anak SD Sei Nahodaris , Desa Panai Hilir, Labuhan Bilik Kabupaten Labuhan Batu sudah berkumpul dan duduk manis. 

                                                        dari: Google Images

Kelas Inspirasi, salah satu komunitas relawan di Labuhan Batu mengadakan hari inspirasi kelima Labuhan Batu di Labuhan Bilik pada empat belas desember dua ribu sembilanbelas. Enam belas jam perjalanan dari Kota Medan. Tak kurang dari delapan puluh relawan yang terdiri dari fasilitator dibagi menjadi tujuh kelompok untuk mengajar anak SD di desa terpencil.

Untuk menempuh desa yang berada di ujung Labuhan Batu ini, harus melewati Sungai Tanjung Sarang Lang dan Pulau Si Kantan menggunakan kapal boat yang hilir mudik sekali empat puluh menit. 

Relawan Inspirasi terdiri dari delapan puluh orang fasilitator, fotografer, videografer dan profesional muda yang akan membagikan kisahnya dalam meraih cita-cita dan berbagai keceriaan selama sehari kepada anak-anak SD khususnya SDN NO. 112214 Sei Nahodaris.

                                                       dari: Google Images

Ketika pertama kali sampai di desa Sei Nahodaris, Panai Hilir, Labuhan Bilik Kabupaten Labuhan Batu kami disambut lumpur yang sangat tebal setinggi betis orang dewasa. Jarak yang harusnya bisa ditempuh dua puluh menit jadi dilalui dua jam karena hanya setengah perjalanan yang bisa dilalui becak dan sepeda motor. 

Husin dan Rizky ( bukan nama sebenarnya) yang membawa kami di dalam becak mengatakan bahwa hal ini hal yang biasa di desa Panai Hilir. " Kami kak uda bisa kemana-mana kek gini. Apalagi kalau hujan makinlah dalam lumpurnya".  Berkali-kali kami, Husin dan Rizky turun dari becak untuk mendorong becak. Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB ketika kami memutuskan turun dari becak dan membayar tujuh puluh ribu rupiah dengan alasan sisa perjalanannya akan lebih cepat bila dilalui dengan berjalan kaki dengan resiko terperosok lumpur berkali-kali.

Esok pagi harinya kami pun memulai mengajar dan berbagi keceriaan dengan kurang lebih dua ratus anak- anak SD Sei Nahodaris. Ada pemandangan yang tak biasa ketika apel pagi dimulai. Sebagian besar anak-anak tidak memakai sepatu. "Biasa tuh Kak, anak- anak bahkan kadang terperosok ke lumpur  dan basah tetapi semangat ujian ke sekolah. Jadi kami biarkan saja mengikuti ujian terlebih dahulu dan segera pulang ke rumah supaya tak masuk angin", kata Kepala Sekolah SD Nahodaris kepada kami.

                                                              dari: Google Images

Selain jalan menuju sekolah yang penuh lumpur, infrastruktur di desa ini juga tak kalah menyedihkan. Bahkan penuturan salah satu relawan, sekolah dasar lain masih berlantai tanah dan beratap tepas kelapa. Para Inspirator yang terdiri dari dosen, kontraktor, pewara acara, guru, dokter, dan profesional lainnya semangat berbagi cerita kepada anak-anak.

"Saya bercita-cita menjadi penjual gorengan karena saya suka risol di depan kantin sekolah", kata Hera murid kelas dua sekolah dasar dengan polos. " Saya ingin menjadi operator beko seperti abang saya", tutur Darto dengan muka cemong bekas bedak bayi dan aksen Melayu kental. Bahkan ada satu anak kelas enam yang bercita-cita jadi orang. Inspirator yang membagikan cerita mengernyitkan dahi "Menjadi orang?", kata Andhika, profesional muda yang berprofesi sebagai kontraktor bangunan di Labuhan Batu. "Ya, jadi apa saja asal halal dan bisa makan", kata si murid kelas enam sambil memamerkan lukisannya yang bagus. Selebihnya sebagian besar anak - anak bercita-cita menjadi pemuka agama, guru dan youtuber. 

                                                             dari: Google Images

Seusai berbagi cerita dan cita-cita anak-anak dikumpulkan di lapangan untuk menulis cita-cita dan menempelkannya di pohon impian. " Siapa kita? Anak Indonesia. Apa tujuan kita? Meraih Impian", kira-kira begitulah teriakan anak- anak sesuai arahan fasilitator

Waktu sudah menunjukkan pukul tengah hari tetapi anak-anak masih ramai berkumpul. "Kak dan abang datang lagilah. Gak cukup sehari", kata guru-guru kepada kami.

Ketika diminta memaparkan kesan dan pesannya kepala sekolah berucap, "Terimakasih buat para relawan yang sudah mau susah payah datang. Saya tidak menyangka kalian datang mengingat kondisi medan yang sangat sulit untuk dilalui. Saya berharap anak-anak dapat meraih cita-citanya dan mendapat perhatian pemerintah untuk perbaikan infrastruktur jalan dan gedung sekolah".

Medan, 18 Maret 2020

Penulis: Maria Julie Simbolon


Komentar

  1. Saya juga ikut kelas inspirasi dua kak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di KI Labuhan Batu, Bang? Kerennn. Semoga berjumpa di lain kesempatan ya, Bang. Oh, ya aku juga menyapa abang sebanyak dua kali di Medan. Pertama abang lagi rapat di Merdeka Walk dan kedua sedang meliputi di Bakso Bujangan HM Joni. hehehhehee.

      Hapus
  2. wahh menginspirasi kak.. semoga adek" itu terus semangat sekolah meraih impiannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnnnnn. Semoga kita diberi kesempatan ikut Kelas Inspirasi berikutnya.

      Hapus
  3. seperti nama kelasnya ya, menginspirasi dan terinspirasi juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Kak e. Keren acaranya. Bersyukur ikut berpartisipasi di dalamnya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerja dari Rumah? Sekarang Saatnya!

All The Bright Places: Tetaplah Menolong Walaupun Kondisimu Juga Butuh Pertolongan

Mewujudkan Rumah Impian, Pilih Beli Kavling Tanah atau Rumah Jadi?