Cerpen: Nila


Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Aku bosan sekali. Semua sudah kulakukan. Main ponsel sudah. Membersihkan meja jualan sudah. Mengecek persediaan ikan-ikan untuk besok sudah. Menghitung hasil jualan juga sudah. Kuketuk-ketuk telapak tangan dengan jari telunjuk. Lama-lama kubentuk pola membulat. Saking gabutnya Aku, pikirku. Membulat. Membulat. Membulat. Lama –lama aku mengantuk. Kusandarkan tubuh sejenak di tembok kios. Telinga kupasang tajam, siapa tahu ada pembeli.

Aku membuka mata dan sudah di dalam bak. Aku sadar ini mimpi. Tangan eh sudah berganti sirip. Rupaku ikan mas sekarang. Aku berenang-berenang. Sudah lama sekali tidak berenang. Menyenangkan sekali. Airnya segar. Kukepak-kepakkan sirip. Kugoyang-goyang ekor. Asyik juga. Karena ini mimpi kuputuskan berenang sampai sore. Aku tidak perlu mengajar les seusai berjualan. Tidak perlu mengurusi anak-anak yang ditinggalkan ibunya. Masa bodoh.

“Hei siapa, Kau?”

Suara itu menghentikanku dari kegiatan berenang. Kulihat dari ujung bak ada satu ikan hitam besar datang. Aduh, apa ikan baru sepertiku juga perlu di ospek ya, batinku.
Kuberanikan diri.

“Aku Ikan Mas baru disini. Kenapa rupanya, Hah?,”seruku garang.

Inikan mimpi. Disini aku bebas bersuara. Si Nila tampak takut. Tidak menyangka diteriaki dengan suara sebesar itu. Ikan lain melihat dan mendekati kami. Senang juga ikan melihat baku hantam, dugaku.

“Ampun, Bang. Cuma mau kenalan aja Aku, Bang. Kulihat Abang sedang sendiri makanya kudatangi,”kata Nila.

Aku bangga ditakuti oleh Nila.

“Jangan coba anggar jago ya. Aku memang ikan baru. Badanku kecil tapi ini mimpiku. Berani kalian samaku maka retak badan kalian ku buat. Kusuk dulu aku.” perintahku. Aku semakin di atas angin.

Si Nila menghampiriku. Memijat punggung bersisikku dengan sirip imutnya. Lucu sekali dunia perikanan ini,pikirku lagi. Kami berbincang dengan hangat. Asal Nila dari kolam yang jauh.

Di tengah perbincangan kami, tiba-tiba air bak berguncang sangat dahsyat. Ada tangan besar mengarah ke kami. Kami para ikan mengumpul di satu sudut bak. Ketakutan. Aku kebingungan. Bertanya-tanya kenapa tidak bisa lagi mengontrol mimpiku lagi. Aku tuan dari cerita ini, kesalku.

Tangan mengarah kepadaku. Aduh, aku baru loh jadi ikan. Kenapa juga mesti ada prahara. Air semakin keras guncangannya. Tubuhku diangkat. Aku megap-megap tidak bisa bernafas. Diarahkan tubuhku ke meja jualan. Matilah aku. Habislah tubuhku hari ini, batinku ketakutan.

***

“Mo, Mo, Darmo.”

Bunyi suara keras di telingaku. Aku membuka mata dan terkejut melihat Mak Tet hanya berjarak sejengkal di sampingku. Dia pelanggan sekaligus rentenir di Pasar ini.Tangan kanannya terbuka. Aku paham. Dia meminta uang setoran utangku hari ini. Kuserahkan malas-malasan.

“Kau ya, Mo. Bukan jualanmu yang kau lariskan, malah tidur renges. Kek manalah mau cepat kaya,” repetnya sambil mengaduk-aduk air di bak jualanku.Melihat itu aku kesal.

“Mak Tet, jangan goyang-goyang ikan itu. Kasihan. Takut nanti mereka,”mohonku.

“Alahhh. Kok jadi berprikeikanan kau sekarang, kalau dihitung-hitung kau yang paling banyak dosanya sama ikan ini. Tiap hari kau matikan ikan ini,”protesnya membela diri.
Aku sedikit setuju.

“Harus jualannya aku,Mak kalau tidak dari mana bayar utang dan makan anakku,”jelasku.

“Itu tau. Sudahlah gak usah aneh-aneh, Kau. Bikin samaku sekilo. Potong fillet ya. Minta masak asam manis si Tiur. Bentar lagi kuambil. Cari nenas dulu. Aku ke kios sebelah," terangnya.

Mak Tet berlalu dan aku memilih satu ikan untuk ditimbang. Ku masukkan tanganku ke bak dan mengambil satu ikan nila. Pas beratnya sekilo. Kubawa ke meja jualan. Pisau sudah di tangan dan kulihat mata ikan nila itu. Pandangan mata kami bertemu. Deg. Jantungku berdetak. Jangan-jangan ini sahabatku si Nila. Timbul keraguan. Gimana ini, batinku berperang. Tegakah membunuh Nila? Tapi kalau tidak ku potong sekarang, bisa-bisa aku dihantam Mak Tet. Membayangkannya saja aku sudah bergidik. Dilema menghadapi situasi ini, sesalku.

Tiba-tiba punggungku dipukul keras dari belakang. Rasanya seperti dipukul balok. Kulihat Mak Tet sudah datang dengan pandangan bertanya.

“Mana ikanku,Mo? Sudah siap?” Tangannya mengulur sambil menyerahkan selembar limapuluh ribuan.

“Belum, Mak. Belumku … .” Belum selesai aku berbicara Mak Tet sudah memotong. Aku tahu akan nada repet panjang. Aku bersiap.

“Astaga, Darmooo. Kok belum kau potong. Sudah setengah jam aku pergi. Sambil mengutip uang juga tadi. Ingat anakmu,Mo. Kalau cepat Kau kerjakan kan cepat Kau bayar utang. Sinilah itu ikan nilanya. Aku aja yang memotong di rumah,”tandasnya seraya menarik kantongan plastik bersih di sampingku.

“Eh,boleh, Mak? Makasi ya, Mak,” jawabku cepat. Ku kembalikan sisa uangnya.

“Hari ini ikannya diskon lima ribu ya,Mak,” sambungku lagi dengan hati senang.

Aku justru lega dengan keputusan Mak Tet. Setidaknya Nila tidak harus mati di tanganku. Jadi rasa bersalahku bisa berkurang sedikit.

“Sukamu lah, Mo,”tutup Mak Tet sambil membawa kantong belanjanya.

Ekor mataku mengantar kepergian Mak Tet dan Nila. Kulihat plastik berisi Nila bergoyang-goyang di tangan Mak Tet. Maafkan aku, Nila. Padahal baru kita berkenalan. Perpisahan memang menyakitkan.

Keterangan :
Anggar jago = pamer kehebatan
Kusuk = pijat
Bikin = siapkan
Renges = nyenyak

Medan, 3 Juni 2020
Penulis: Maria Julie Simbolon



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerja dari Rumah? Sekarang Saatnya!

All The Bright Places: Tetaplah Menolong Walaupun Kondisimu Juga Butuh Pertolongan

Mewujudkan Rumah Impian, Pilih Beli Kavling Tanah atau Rumah Jadi?