Orang Kaya


Uta berusia sebelas tahun ketika tahu kalau dia anak pungut. Awalnya Uta tahu dari Namboru Udur, pandapol sebelah rumahnya. Asal muasalnya Namboru Udur datang ke warung kopi yang sama dengan Uta dan ingin duduk. Sayangnya semua kursi penuh dan hanya Uta kerabat yang dikenalnya.

“Geser dulu, Uta. Mau duduk Bou.”

Uta tidak menjawab karena asyik menonton sekumpulan bapak yang sedang bermain kartu.

“Oh, Uta. Bisanya?” kata Namboru Udur lagi. Kali ini lebih keras.

Uta menoleh sebentar tapi tidak melakukan aksi menggeser pantatnya. Namboru Udur pitam.

“Betullah kau ya, Uta. Memang dasar anak pungutnya, Kau,”geram Namboru Udur.

Entah karena marah atau betulan tetapi itu berhasil membuat Uta menoleh. Cuma Uta yang menoleh yang lain asyik masyuk dengan kartunya masing-masing. Mencari kebenaran kata yang baru diucap. Yang ditoleh, melihat ke arah lain.

Uta bergegas mengambil langkah balik badan ke rumahnya. Selepas Uta pergi, Namboru Udur duduk ditempat yang ditinggali Uta. Angkat pantat hilang tempat. Mamak sedang martonun ketika Uta datang.

“Makkkkkkkkkk,” teriak Uta.

Tidak ada jawaban. Hanya terdengar riuh suara mesin tenun. Rumahnya hanya sepetak dan letak mesin tonunnya ada di dekat pintu masuk. Mustahil Mamak tidak melihat kedatangannya.Ternyata yang dicari ada dibalik mesin tonun sedang menggoyang-goyang rangka mesin. Sibuk menenun ulos. Uta tahu kenapa Mamak malas menjawab. Pasti takut dimintai uangnya. Sangkanya.

“Mak, kata Namboru Udur kan, Aku anak pungut ya?” kata Uta langsung tanpa basa-basi.

Yang ditanya cuek. Macam tak mendengar. Padahal jarak Uta dengan Mamak cuma sejengkal. Uta pantang menyerah, sudah penasaran kali. Digoitnya Mamak.

“Kau dengar-dengarlah Uta si Udur itu, yang jabironnya itu.Lantam mulutnya itu. Kerjanyalah dikerjai. Pigi dulu kau lagi sibuk aku” Selepas berbicara dengan kecepatan tinggi, Mamak diam lagi.

Uta tahu sifat Mamak. Kalau sudah begitu tak bisa lagi dipancing untuk berbicara lebih. Uta bertanya karena bukan ini kali pertama dia mendengar selentingan itu. Uta tinggal di perkampungan padat penduduk. Informasi lebih cepat dari yang kau bayangkan. Sebagian besar warganya adalah partonun, termasuk Mamaknya Uta. Uta tidak punya Bapak. Mamak tidak pernah kawin resmi. Otomatis Uta jadi anak Mamak satu-satunya.

Mamak tidak menjawab maka keputusan Uta sudah bulat kalau dia adalah anak pungut dan aslinya anak orang kaya. Entah wangsit darimana, sejak itu Uta percaya kalau dirinya akan dijemput suatu saat nanti oleh orangtua kandungnya. Uta tidak pernah lupa untuk bersiap setiap hari dengan baju paling bagusnya. Disediakannya tas berisi satu pasang baju, selembar foto Uta dan Mamak kemudian digantung tas itu di balik pintu petaknya. Siapa tahu nanti rindu sama Mamak. Siapa tahu dia dijemput hari ini. Pikirnya. Uta tetap sayang Mamak. Tapi dia tetap menungu orangtuanya menjemputnya.

Sejak itu Uta keranjingan menumpang nonton sinetron di rumah tetangganya yang lain. Setiap ada adegan orang kaya makan, berbicara, tertawa dan berpakaian.Dipelajarinya diam-diam. Aku tidak boleh memalukan orangtuaku saat perjumpaan pertama kami. Pikir Uta polos dan percaya diri.

Suatu waktu, sepulang sekolah Uta melihat dari kejauhan mobil mewah di depan rumahnya. Hatinya kembang kempis. Senang bukan kepalang. Uta sangat jarang melihat mobil masuk ke kampungnya. Kalau ingin melihat mobil pun Uta harus berjalan sekitar satu kilometer ke jalan besar di ujung kampungnya. Orang paling kaya versi Uta di kampungnya pun hanya punya sepeda motor. Itupun berplat merah. Jadi melihat mobil di depan rumahnya hatinya melayang tidak karuan.

Hore! Akhirnya yang kutunggu-tunggu. Mereka sudah datang menjemput aku, batin Uta kesenangan. Tak dipedulikannya kawan yang tadinya berjalan dengan dirinya. Pikirannya sudah panjang membayangkan yang indah-indah. Tidak sia-sia aku belajar dari sinetron. Pikirnya.

Kira-kira sepuluh langkah lagi menuju rumahnya. Perasaan Uta makin tinggi. Lebih tinggi dari badannya. Langkahnya gagah tegap.

Sembilan langkah.

Bagaimana ya rupa orangtuaku. Aku mirip Mama atau Papa ya. Sekejap panggilan Uta sudah seperti tidak mengenal kata Mamak.

Delapan langkah.

Apakah aku punya abang atau adik?

Tujuh langkah.

Besarkah rumah kami nanti?

Enam langkah.

Kek manalah nanti ekspresi mukaku ku buat? Menangis terharu berderai-derai airmata atau langsung kupeluk?

Diciumnya badannya sendiri. Uta tersenyum kecut. Takut orangtuanya tidak senang dengan bau matahari. Jauh kali bauku dari bau orang kaya, pikirnya.

Lima langkah.

Tiba-tiba terbayang wajah Mamak.

Empat langkah.

Aduh, siapalah nanti kawan Mamak di rumah.

Mulai Uta sedih. Ada sedikit rasa bimbang.

Tiga langkah.

Teringat Mamak yang martonun siang malam buat hidup mereka.

Dua langkah menuju rumahnya.

Tampak Mamak sedang melipat karung bekas tempat ulos. Biasanya di akhir minggu Mamak dan Uta mengantar ulos hasil tenunannya untuk dijual ke Onan.

Rumahnya kosong. Hanya ada Mamak. Tetapi mobil masih terparkir di depan rumahnya.

Loh, kok?

Uta bertanya penasaran tanpa menyinggung perasaan Mamaknya.

“Mak, dimana orang yang punya mobil itu?” tanya Uta sambil melepas sepatunya.

“Makanlah kau, Ta. Sudah Mamak goreng ayam tadi samamu. Suka kau kan? Laku tadi ulos Mamak,” perintah Mamak.

Bukan jawaban yang diinginkan. Uta tidak puas.

“Mak, dimana orang yang punya mobil itu?” tanyanya sekali lagi.

“Di Partonun sebelah sana kurasa. Gak tahu lah aku, Uta,” Mamaknya melengos dan pergi ke arah mesin tenunnya lagi.
Rasa penasaran Uta sudah tak terbungkam.

Didekatinya Mamak yang sedang menggulung benang di samping mesin tonunnya.

“Mak, makan pun aku. Tapi jawablah dulu pertanyaan Uta,” kali ini dengan muka memelas.

“Tokke ulos dari Jakarta. Besok dia harus pulang ke Jakarta jadi mau tidak mau harus dijemputnya langsung semua ulos Partonun di kampung kita. Dia perlu banyak. Udahlah makanlah, Kau. Gak ngerti-ngertimu itu. Masih anak-anak, Kau," semprot Mamak.

Uta lemas. Ternyata bukan mereka. Baru tadi perasaannya membuncah. Sejurus kemudian hilang sudah semua harapannya. Perutnya berbunyi keras. Perlu diisi. Seolah tidak peduli kesedihan Uta.

Uta baru selesai makan dengan lahap ketika didengarnya Mamak memanggil. Uta bergegas menemui Mamak.

“Nah, ambil ini. Jangan lupa kau tabung ya. Ada tadi lebihnya dikasih Tokke itu ,”kata Mamak mengulurkan uang duapuluh ribuan. Uta senang tidak karuan.

Begitupun, Uta tidak pernah melupakan keyakinannya kalau suatu saat akan dijemput Orang Kaya dari kota. Orangtua kandungnya. Kepercayaan itu tetap dipeliharanya entah sampai kapan.

Keterangan:
Bou / Namboru = bibik/ tante
Pandapol = Tukang Pijat
Partonun = Penenun, biasanya Ulos
Martonun = bertenun
Ulos = kain khas suku Batak
Onan = pasar
Jabiron = ceplas-ceplos, omongan sambil lalu. Sering digunakan untuk orang yang suka membicarakan orang lain
Lantam = nyinyir, meracau
Goit = colek
Pigi = pergi
Tokke = juragan

Medan, 1 Juni 2020

Penulis: Maria Julie Simbolon



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerja dari Rumah? Sekarang Saatnya!

Asus Vivobook Go 14 , Laptop Ekonomis Terbaik untuk Mahasiswa Produktif

All The Bright Places: Tetaplah Menolong Walaupun Kondisimu Juga Butuh Pertolongan