Mantra Menemui Diri










Buatmu yang mungkin sedang mengalami kekecewaan, tulisan ini (mungkin saja) kutujukan buatmu.

Beberapa tahun yang lalu aku didiagnosa dengan depresi mayor. Kesedihan berkepanjangan dan keinginan mengakhiri hidup yang berulang menjadi masuk akal dengan penjelasan dari profesional yang kudatangi. 

Saat itu kurasa kehidupan semakin memburuk, segala usaha yang sedang kulakukan berakhir tidak baik. Perasaan-perasaan tidak berharga, tidak diinginkan, kemarahan dan rasa tidak berdaya datang silih berganti.

Ada hal yang kupelajari dari pengalaman tidak mengenakkan ini, yaitu jiwa itu indah, dan luka yang kualami tidak perlu diubah. Pengalaman-pengalaman ini justru memperluas pengalamanku. 

Kok bisa, Marjul? Aku merasa kok sudah tidak punya pengharapan, apa aku masih bisa bangkit? Ada satu kalimat yang kubaca entah di mana, kira-kira begini bunyinya, " Bukan hanya terang, bahkan gelapmu akan melindungimu kalau kamu mau bangkit."










Aku tak bisa menjanjikan keadaan di depan sana lebih baik, terkadang kehidupan menghantam kita lebih keras lagi. Bahkan di saat kamu memutuskan akan bangkit menghadapi hal dan perasaan itu pun bisa saja keadaan semakin memburuk. 

Siapa yang bisa memastikan? Tidak ada. Luka masa lalu akan tetap ada, tetapi responmu terhadapnya yang akan mengubah bentuk dari luka itu.

Mulailah berdamai dengan ketidakpastian. Sebenarnya itu inti tulisan ini. Mengenai apa yang tidak kusukai adalah hal lain yang akan kubahas di sini. Saling berkesinambungan sebenarnya. Hahahah. Dulu, menemui diri sendiri adalah hal yang paling tidak kusukai. 

Tanpa disadari sering sekali aku mengabaikan perasaan tidak nyaman yang kurasakan. Berbeda dengan perasaan nyaman, gembira, cinta, dan hal menyenangkan lainnya yang diharapkan bisa dirasakan berlama-lama, perasaan tidak nyaman adalah hal yang sering ditepis keberadaannya.









"Udahlah jangan nangis, kau kan kuat, masa nangis?", "Duh, kok aku marah ya, cari lagu gembira ah, biar rasa marahku hilang" Perasaan-perasaan ingin segera menepis ketidaknyamanan ini yang membuatku semakin enggan menemui diriku. Buru-buru menghindari emosi yang (buru-buru) kusimpulkan negatif.

Tidak banyak orang yang berani menghadapi langsung rasa tidak nyaman itu dan menelaah sebenarnya aku marah karena apa, ya? Sebenarnya aku sedih karena apa, ya? 

Bisa jadi seseorang marah karena kelelahan, bisa jadi seseorang takut gagal karena memiliki ekspektasi yang berbeda, bisa jadi sedih karena merasa diabaikan. Ada banyak layer sampai seseorang bisa merasakan sesuatu secara pasti.








Emosi menurut KBBI adalah keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesediham, keharuan, kecintaan); keberanian yang bersifat subjektif. 

Belajar meregulasi emosi adalah hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi hal-hal yang tidak disukai. Contohnya, aku pernah tidak suka menyebrang jalan. Setelah merenungi lebih jauh, aku takut menyebrang karena pernah mengalami kecelakaan saat di jalan.

Contoh lain adalah aku tidak suka mengungkapkan pendapat. Setelah merenungi kembali, ternyata aku bukannya tidak suka melainkan takut pendapatku ditolak atau tidak disukai orang lain.

Dari hal ini aku kembali belajar tentang teori lingkar kendali. Ada hal-hal yang memang di luar kendaliku dan ada hal-hal yang ada di dalam kendaliku. Hal yang ada di dalam kendaliku adalah menyebrang dengan hati-hati, mencari cara melewati jalan dengan bantuan orang lain, dan belajar menyampaikan pendapat tanpa berkekspektasi orang lain akan suka atau tidak suka. Hal-hal yang di luar kendaliku antara lain perilaku berkendara orang lain, pendapat orang lain tentangku, pikiran orang lain, perasaan orang lain, dan hal-hal di masa lalu.

Untukmu yang bingung memulai, aku memiliki beberapa tips yang mungkin bisa diterapkan untuk menghadapi hal-hal yang tidak kamu sukai:

 1. Mencari Tahu Pemicu dari Tidak Suka yang Kamu Rasakan

Kamu bisa melakukannya dengan menuliskan daftar rasa ketidaksukaanmu dan membaca ulang apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan. Hal ini akan mengelola respon tentang rasa tidak suka dan nyaman yang sedang kamu rasakan.










2. Jurnaling
Mulailah menuliskan hal-hal yang tidak kamu sukai dan tidak membuatmu nyaman. Kamu juga sebaiknya menulis hal yang kamu sukai dan membuatmu nyaman. Menuliskan hal ini akan membuatmu alarm emosimu menyala karena kamu sudah sering berlatih memahami emosi yang sedang kamu rasakan. 








3. Ubah Fokus dengan Mindfulness
Hal yang wajar bila kamu suka dan tidak suka terhadap sesuatu. Sadari dan habiskan energi dan waktumu kepada hal-hal yang menjadi prioritas dalam hidupmu saat ini. Hadir seutuhnya di momen hidupmu saat ini juga akan mengurangi kecemasan dan rasa overthingkingmu. 









4. Memiliki Circle yang Mendukungmu
Pasangan, keluarga, sahabat dan komunitas yang saling mendukung akan membuat dirimu keluar dari zona mental korban sehingga fokusmu perlahan menjalankan hal-hal yang kamu sukai.












5. Mantra Menemui Diri

Aku biasanya menuliskan keempat kalimat ini untuk diisi:

a. Aku tidak suka karena

b. Aku marah karena

c. Aku cemas karena

d. Aku bahagia karena

e. Aku mengekspresikan energiku dengan

Biasanya setelah menulis ini, aku jadi lebih paham kenapa aku tidak suka ini, kenapa aku suka ini, dst. Ssst, ada rahasianya, terkadang kita tidak punya alasan apa-apa untuk suka atau tidak suka, loh. Hahahhaa. Nah loh? Dicoba saja dulu.

Perjalanan menemui diri sendiri sangat menarik, bukan?

Sudah berapa lama tidak tersenyum lepas?
Sudah berapa lama lupa sisiran?
Sudah berapa lama tidak melihat dirimu di cermin?
Tidak apa-apa, semua ada fasenya
Semua emosi datang silih berganti, sebentar marah, sebentar bahagia, sebentar bingung
Manuasiawi sekali bukan?
Keadaan akan berganti-ganti tetapi cara pandang yang lebih bersih akan membuat responmu berubah


Medan, 27 Oktober 2023




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerja dari Rumah? Sekarang Saatnya!

All The Bright Places: Tetaplah Menolong Walaupun Kondisimu Juga Butuh Pertolongan

Mewujudkan Rumah Impian, Pilih Beli Kavling Tanah atau Rumah Jadi?