𝐈𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐌𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐌𝐚𝐥𝐚𝐬 𝐁𝐞𝐫𝐛𝐚𝐧𝐭𝐚𝐡. 𝐁𝐚𝐠𝐚𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐫𝐚 𝐌𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐚𝐢𝐤?

 
Sumber Gambar: Unsplash

Setiap kali ingin marah, aku sering tak sadar meng-supresinya. Apakah karena aku sabar? Sebenarnya tidak. Aku memilih menekan rasa marahku karena enggan berbantah, berdebat dan menjelaskan penyebabnya. Biasanya aku memilih untuk melakukan silent treatment. Alias diam, menenangkan diri sampai amarahku selesai dan memilih tak membahasnya lagi.

Aku hanya perlu menyingkir sebentar sampai amarahku usai dan kembali dengan senyum mengembang lebar. Tidak perlu ada teriakan, debat kusir dan penjelasan-penjelasan yang membosankan. Belum lagi harus menghadapi orang yang maunya menang sendiri. Tak usah pun jadi, pikirku. Akhirnya lagi-lagi aku memilih menyingkir dan tidak berniat menyelesaikannya.

Apa yang kulakukan saat menenangkan diri? Biasanya aku latihan nafas, mencoret-coret kertas, tidur dan mandi. Setelahnya, bila pikiran marah itu belum juga usai aku akan meredamnya dengan menonton film, menonton youtube, belajar dan membaca.

Sekilas hal di atas terdengar baik kujalankan. Apakah kemarahanku menguap dan hilang? Ternyata tidak. Dia hanya mengendap dan bisa kembali lagi kalau pemicu yang mirip muncul.

Psikiater Jiemi Ardian mengatakan perilaku ini cenderung berbahaya. Apa sebab? Ada sisi bahaya dalam menekan kemarahan. Menurutnya banyak cara menekan amarah. Supresi adalah salah satunya. Setiap emosimu penting dan bertujuan melindungi. Tidak ada emosi negatif dan positif karena semua emosi sama pentingnya.

Masalah akan terjadi bila supresi adalah satu-satunya caraku untuk menyelesaikan kemarahan. Supresi berarti tindakan yang kulakuan secara sadar untuk menutupi kemarahan, perasaan, pikiran atau doronganku untuk meledak.

Emosi marah yang ditekan secara terus menerus tanpa dirilis membuat tubuh kita mendapatkan konsekuensi negatif. Waduh! Ternyata aku sedang berusaha menolak seutuhnya diriku dan menyangkal sisi kemanusiaanku yang memiliki beragam emosi.

Bahkan kemarahan yang terus menerus kutahan bisa membuat aku kesulitan fokus, diliputi rasa cemas, tidak bisa memahami perasaan orang lain di sekitar dan membuat aku semakin kehilangan empati. Duh!

Padahal marah itu wajar. Rasa marahmu itu sebaiknya diterima saja. Marah tidak harus identik dengan meledak dan berteriak tak karuan. Selesaikan amarahmu dengan memahami konteks yang sedang terjadi.

Saat dirimu sedang marah, sebenarnya tubuhmu sedang mengirimkan sinyal dan pesan tertentu. Emosi marah muncul karena reaksi rasa tidak dihargai, tidak memiliki kendali, rasa tidak nyaman, rasa gelisah, rasa ditolak, rasa tidak dimengerti, takut, rendah diri dan sebagainya. Memang untuk memahami pesan yang disampaikan tubuhmu memiliki tantangan tersendiri. Kau harus kenal dirimu dulu supaya tahu mengelola perasaan marah dan emosimu yang lain.

Aku pun sedang belajar untuk membangun kesadaran ini supaya bisa mengelolanya dan menyampaikan perasaan marahku dengan seapa adanya tanpa ledakan dan teriakan yang tidak perlu.

Saat mendengarkan penjelasan Dokter Jiemi, ada rasa takut menyampaikan kalau aku sedang marah dan tidak nyaman dengan kondisi itu. Bisa jadi lawan bicara kita tidak terima dan balik marah. Sejujurnya aku takut tak bisa menerima respon balik dari lawan bicaraku itu, takut munculnya masalah baru dan takut masalah semakin membesar. Ribet, kan?

Bagaimana dengan kecemasan di atas? Menurut Dokter Jiemi, hal di atas wajar terjadi. Kemarahan bisa jadi muncul karena luka emosional (emotional pain). Keterampilan berkomunikasi akan menjadi kunci untuk melontarkan perasaan marah yang sedang kita alami. Sampaikan dan ekspresikan alasan yang membuatmu marah secara welas asih. Sampaikan apa kebutuhanmu dan keberatanmu lalu diskusikan solusinya.

Jadi ke depannya kemarahan bisa dihadapi bukan diabaikan, ditekan, diredam, ditolak kedatangannya atau bahkan diledakkan sesukamu. Kesadaran akan emosi marahmu ini terkait caramu bertanggung jawab dengan emosi yang sedang kau rasakan. Kau pegang kendali penuh atas respon dan reaksi yang keluar dari perkataan dan tindakanmu.

Jadi, intinya apa, Marjul? Boleh marah? Tentu boleh. Supresi pun baik bila sesekali dilakukan.  Lakukanlah dengan bertanggungjawab. Kemarahan jangan ditekan atau diluapkan secara bebas seakan kau tidak memiliki kendali atasnya karena itu yang akan membuatmu sulit mengendalikan diri ke depannya. Salam.

 

Medan, 4 Mei 2021

𝐏𝐞𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬: 𝐌𝐚𝐫𝐢𝐚 𝐉𝐮𝐥𝐢𝐞 𝐒𝐢𝐦𝐛𝐨𝐥𝐨𝐧

 

#Olahrasa

#30HariBlogBer22

#BloggerMedan

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerja dari Rumah? Sekarang Saatnya!

All The Bright Places: Tetaplah Menolong Walaupun Kondisimu Juga Butuh Pertolongan

Mewujudkan Rumah Impian, Pilih Beli Kavling Tanah atau Rumah Jadi?