Karya Joko Anwar yang Masih Bercerita Tentang Perjanjian dengan Setan

Sumber Gambar: Unsplash

Maya adalah seorang gadis berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai penjaga tiket tol. Belakangan hidupnya terganggu karena diteror oleh seorang pengendara yang bertampang misterius. Dalam sehari pengendara, yang mengaku berasal dari desa Harjosari di Jawa Timur ini, bisa lewat berkali-kali di gardu jaga Maya. Lantas dia pun mengadukan kelakuan tak biasa ini kepada Dini, sahabatnya sesama penjaga tiket tol. Teror semakin mencekam karena lelaki ini, dengan agresif dan membabi buta, mengayunkan senjata tajam ke arahnya sambil berteriak kalau nama asli Maya adalah Rahayu.

Maya yang sedang kesulitan keuangan pun mencari tahu asal-usulnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pemirsaaa. Maya, yang sedari kecil tinggal dan dirawat bibinya, menemukan sebuah foto lama berlatar sebuah rumah kuno yang besar dan mewah. Dia pun bertekad mengklaim kepemilikan rumah itu untuk menutupi semua permasalahan keuangannya. Dini turut bersemangat dengan ide Maya. Dengan penuh tekad, Dini mengajukan diri untuk menemani Maya ke desa antah berantah itu. Satu-satunya petunjuk hanya berdasarkan lisan lelaki misterius itu.

                                                                    Sumber Gambar: Google Images

Seperti yang diduga, karena ini cerita horor dan thriller, dari awal perjalanan sampai tiba di kampung Harjosari banyak sekali kejadian aneh yang menghantui mereka berdua. Bagaimana kisah selanjutnya? Apa hubungan Maya dengan Rahayu dan Desa Harjosari? Mengapa banyak sekali kuburan anak-anak di desa ini?

Bila kau mengikuti pengumuman pemenang piala citra, perempuan Tanah Jahanam ada di tujuh belas nominasi. Rekor baru di perfilman Indonesia.  Seperti yang diduga banyak reviewer film, Perempuan Tanah Jahanam berhasil memboyong banyak sekali penghargaan. Antara lain film cerita panjang terbaik, sutradara terbaik, pengarah sinematografi terbaik, penyunting gambar terbaik, dan pemeran pendukung perempuan terbaik.

Awalnya Joko Anwar menargetkan lama pengambilan gambar dan adegan hanya 67 hari tetapi karena dia diserang demam berdarah maka syuting sempat berhenti selama delapan hari. Joko Anwar sempat mengucapkan permintaan maafnya di twitter karena bujet untuk iklan jadi terpotong karena keterlambatan itu. Begitupun, kepiawaian Joko Anwar tak lagi diragukan. Dalam waktu sembilan hari sejak penayangannya, film ini berhasil mengumpulkan satu juta penonton.

Walaupun terlihat serupa, ternyata banyak adegan di Desa Harjosari yang dilakukan di tempat berbeda, loh. Misalnya adegan di hutan bambu. Syuting dilakukan di beberapa tempat di daerah Malang, Gempol, Lumbang, Ijen, Banyuwangi dan beberapa daerah lain di Jawa Timur.

                                                                      

                                                                                          Sumber Gambar: Unsplash

Di salah satu wawancara, Joko Anwar dan timnya melakukan riset untuk mencari tempat yang memiliki empat jenis hutan dan memiliki banyak  kuburan anak-anak. Kabar baiknya, lokasi yang dipilih ada di beberapa tempat walau jalan menuju ke sana harus dibuka mandiri dengan bantuan kendaraan alat berat. Perjuangan yang sangat berat, ya.

Ikoniknya, lagi-lagi, Joko Anwar dan filmnya berhasil menemukan rumah yang sangat memorable seperti rumah Ibu di Pengabdi Setan. Berdasarkan berbagai sumber, ternyata rumah ini sudah tidak dihuni selama tiga puluh tahun. Makinlah seram ya, kannn. Tak hanya satu rumah yang ikonik, hunian Ki Saptadi juga cukup terkenang-kenang dengan keindahan ornamen dan ukirannya.

Hal unik lain yang kulihat dari film ini adalah pemeran utamanya perempuan. Bukan hanya sekedar hiasan dan objek, tampak sekali para pemeran perempuan seperti Tara Basro, Marissa dan Asmara saling membantu dan mendukung di adegan film ini. Akting Marissa Anita dan Asmara Abigail pun cukup layak diacungi jempol. Kehadiran aktris senior Christine Hakim juga semakin memperkaya warna film. Jahanam kali, pokoknya!

Alur, keadaan, ke-mindblowingan serta plot twistnya juga terjaga sampai akhir. Bagi kamu yang penakut seperti aku jangan khawatir, ya. Film ini termasuk ramah kepada kejutan mendadak.  Jantungku masih aman sampai akhir film karena unsur kejutannya masih dalam tahap sopan dan tidak bar-bar. Hahahha.

                                                                                                 Sumber Gambar: Google Images

Mengenai poster film, setelah kelar menonton, aku baru menyadari arti dari posternya. Ada AHA dan OH IYA YA momen yang tersampaikan.  Padahal di awal aku agak pesimis dengan rambut berdiri para pemerannya. Apa-apaan ini. Cringe sekali, pikirku polos tak berotak. Nyatanya, cerdas kali rupanya pemilihannya, pemirsaaa.

Oh ya, di film ini ada satu adegan panas yang cukup berani, ya. Ini beneran adegan panas ya bukan hanya sekedar duduk dekat kompor dan api unggun, ya. Hahahahha. Walau hanya beberapa detik, aku jadi menggoogling nama pemeran Nyai Shinta. Berani sekali kau, Adinda. Pikirku begitu. Hahhahahah.

Setelah mengikuti beberapa film Joko Anwar, aku selalu menemukan kesamaaan pemain dan pengisi soundtrack film. Ada Tara Basro dan The Spouse. Hal ini pun banyak ditanyakan oleh netizen dengan segala kekepoannya. Mengenai ini Joko Anwar berkilah kalau para pemeran juga kasting dengan banyak pelakon lainnya. Namun, aku sama sekali tak terganggu karena aku penggemar keduanya. Hehehhe.

Sesungguhnya, aku semakin optimis dengan masa depan perfilman Indonesia walau moodku sempat dirusak dengan kehadiran film acakadul macam arwah tumbal nyai. Telerlah!

Ah, kesan akhir dari Perempuan Tanah Jahanam, aku sangat puas dengan film ini. Tak berat rasanya memberi 4,5 bintang dan merekomendasikannya kepada kalian semua. Salam.


Judul Film: Perempuan Tanah Jahanam

Judul Lain: Impetigore

Produser: Shanty Harmayn,  Tia Hasibuan, Aoura Chandra dan Ben Soebiakto

Penulis Naskah: Joko Anwar

Sutradara: Joko Anwar

Durasi: 1 jam 46 menit

Tayang Perdana: 17 Oktober 2019

Pemain: Tara Basro, Marissa Anita, Christine Hakim, Asmara Abigail, Ario Bayu

Produksi: Ivanhoe Pictures, BASE Entertainment, Rapi Films, CJ E&M Film Division

Sinematografi: Ical Tanjung

Tata Suara: Rahayu Supanggah, Tony Merle, Bemby Gusti, Aghi Narottama

Penyunting Gambar: Dinda Amanda

Genre:  horror dan thriller


Penulis: Maria Julie Simbolon

 

Medan, 28 April 2021 

#Ulasan

#UlasanFilm

#30HariBlogBer16

#BloggerMedan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerja dari Rumah? Sekarang Saatnya!

All The Bright Places: Tetaplah Menolong Walaupun Kondisimu Juga Butuh Pertolongan

Mewujudkan Rumah Impian, Pilih Beli Kavling Tanah atau Rumah Jadi?