Perempuan di Mata Seorang Dokter Kandungan

Sumber Gambar: Unsplash

𝑨𝒑𝒂𝒌𝒂𝒉 𝒌𝒆𝒌𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂? 𝑳𝒖𝒌𝒂 𝒇𝒊𝒔𝒊𝒌 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒐𝒃𝒂𝒕𝒊 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒔𝒆𝒃𝒖𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒆𝒔𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒕𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒈𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒋𝒊𝒌𝒂 𝒍𝒖𝒌𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒂𝒃𝒂𝒅𝒊- Dokter Kartini

Beberapa tahun belakangan film Indonesia semakin menunjukkan taringnya. Tak terhitung banyaknya film berkualitas yang memiliki tema yang menggugah penonton. Tentu ini memberi angin segar geliat sinema di Indonesia.

Jika di belakangan hari kita sering disajikan tema horor yang membuat kepala pusing setelah menontonnya maka kisah picisan tak masuk akal pun sempat merajainya.

Untungnya banyak sineas muda yang melihat ini. Kalau dulu banyak yang memandang sebelah mata dengan karya anak negeri, sekarang sudah banyak yang menantikan karya-karya membahana selanjutnya. Semoga pandemi segera berlalu dan bioskop kembali dibuka, ya.

Beberapa film berkualitas yang menjadi favoritku seperti Perempuan Tanah Jahanam, A Copy of My Mind, Laskar Pelangi, Gundala, Dua Garis Biru, Imperfect, Ave Maryam, Selamat Pagi Malam, Lemantun dan banyak lainnya. Kali ini aku akan membahas sebuah film berkualitas bertema perempuan. 

Dokter Kartini, seorang ahli kandungan. Pekerjaannya membuat perempuan berusia sekitar setengah abad ini didatangi banyak perempuan dengan berbagai latar belakang dan kasus yang unik.

Adalah Lily, seorang perempuan muda yang sedang hamil tua. Dia sering datang ke praktik Dokter Kartini dengan luka lebam nyaris di sekujur tubuhnya. Pada Dokter Kartini, dia mengaku kalau lukanya karena jatuh dan kurang berhati-hati ketika berjalan. Pengalamannya yang segudang tentu membuat Dokter Kartini tahu keterangan pasiennya ini tidaklah benar.

Beda lagi Yanti, seorang pekerja seks komersil yang ramah dan ceria. Selama menjajakan diri dia ditemani asisten merangkap tukang ojeknya yang setia bernama Bambang. Bambang kerap disebutnya Anjelo. Singkatan dari Antar Jemput Lonte. Kedatangannya ke praktik Dokter Kartini karena merasa ada yang salah dengan tubuhnya.

Selanjutnya ada Rara, seorang gadis kecil berusia empat belas tahun. Saat ini dia duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama. Usianya boleh masih muda tetapi pengalamannya dalam hubungan intim sudah lumayan luas dengan pacarnya, Acin.

Ada lagi Lastri. Perempuan bertubuh subur yang merindukan kehadiran buah hati setelah sekian lama membina biduk rumah tangga. Kehidupannya dengan suami yang memuja masakan Lastri sangatlah bahagia.

𝐴𝑘𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑖𝑠𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑡𝑎𝑘𝑑𝑖𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘𝑘𝑢, 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑎𝑘𝑢 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎. 𝐴𝑘𝑢 ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑏𝑗𝑒𝑘. 𝐴𝑘𝑢 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎. 𝐵𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑛𝑗𝑖𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑔𝑖𝑡𝑢 𝑠𝑎𝑗𝑎 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑚𝑎𝑗𝑖𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑖𝑏𝑢𝑘 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑙𝑜𝑛𝑡e-𝑙𝑜𝑛𝑡e 𝑑𝑖 𝑙𝑢𝑎𝑟 𝑠𝑎𝑛𝑎.- Ratna 

Ratna pun sudah menunggu lima tahun untuk memiliki keturunan. Saat rezeki itu datang, dia bekerja ekstra keras menerima pesanan jahitan. Sayangnya kerja keras dan kegembiraannya tak disambut baik pasangannya. Marwan, suaminya hanya menjadi benalu di hidupnya yang sudah sulit.

Perempuan-perempuan ini bertemu secara tak sengaja di selasar ruang praktik Dokter Kartini. Semuanya memiliki kisah tersendiri dan Dokter Kartini hanyut di dalamnya.

Dia merasa perempuan selalu menjadi korban di kisahnya sendiri. Baginya cinta sudah mati. Tak sekali pun Dokter Kartini tertarik datang menyambut cinta yang datang di usianya yang senja ini.

Sumber Gambar: Google Images

Berkat ceritanya yang penuh makna, film ini berhasil dinominasikan di belasan kategori. Happy Salma bahkan memenangkan  Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2010.

Film berdurasi 94 menit ini juga berhasil membawa pulang piala Pasangan Terfavorit, Aktris Pembantu Terfavorit, Aktor Pendatang Baru Terbaik dan Aktris Pembantu Terbaik di ajang  Indonesia Movie Awards.

Film yang tayang di tahun 2010 ini adalah salah satu film favoritku. Diksinya indah. Kisah yang diceritakan berkisar tentang kuatnya budaya patriarki mencengkeram leher perempuan Indonesia. Perempuan seolah tak memiliki hak untuk mengambil keputusan yang merdeka atas tubuhnya sendiri.

Topik lain yang digaris tebal sepanjang film adalah emansipasi, perempuan di mata perempuan lainnya, penghargaan diri, tekanan sosial, reputasi karena lahirnya anak laki-laki, dan berbagai kritik sosial yang cukup menggigit serta masih layak didiskusikan.

Bagaimana cerita akhirnya? Akankah perempuan hanya menjadi korban seperti kekhawatiran Dokter Kartini? Apakah benar tuduhan Dokter muda Rohana kalau pembelaan Dokter Kartini kepada kaumnya membabi buta dan berat sebelah? Haruskah laki-laki dibenci dan satu-satunya pihak yang disalahkan? Silakan saksikan sendiri, ya. Salam.


Judul Film: 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

Pemain: Jajang C. Noer, Marcella Zalianty, Olga Lydia, Happy Salma, Intan Kieflie, Tamara Tyasmara, Tizza Radia, Patty Sandya

Sutradara: Robby Ertanto

Produser: Intan Kieflie

Tayang tahun: 2010

Durasi: 94 Menit

Bahasa: Indonesia 


Penulis: Maria Julie Simbolon

 

Medan, 29 April 2021 

#Ulasan

#UlasanFilm

#30HariBlogBer17

#BloggerMedan


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerja dari Rumah? Sekarang Saatnya!

All The Bright Places: Tetaplah Menolong Walaupun Kondisimu Juga Butuh Pertolongan

Mewujudkan Rumah Impian, Pilih Beli Kavling Tanah atau Rumah Jadi?