Burung Ajo Kawir Telah Mati


Saat mendengar Eka Kurniawan dan Palari Films akan mengadaptasi novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar ke layar lebar, aku senang bukan kepalang. Marthino Lio dipilih untuk memerankan Ajo Kawir . Sementara itu penyanyi Sal Priadi akan memulai debut pertamanya menjadi aktor dan memerankan tokoh Tokek. Sebenarnya Siapa Ajo Kawir? Siapa Tokek? Mari kuperkenalkan.

Buku ini adalah karya dari penulis kondang, Eka Kurniawan. Eka lahir di Tasikmalaya, 1975. Kumpulan cerpen pendeknya meliputi Corat-Coret di Toilet (2000), Gelak Sedih (2005) dan Cinta Tak Ada Mati (2005). Dua novelnya yang lain adalah Cantik Itu Luka (2002), Lelaki Harimau (2004).

Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa Rona Merah, seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.

Kutipan di atas adalah uraian singkat yang tertera di sampul belakang buku setebal 244 halaman ini. Karena tak setebal Cantik itu Luka, buku ini bisa dibaca dalam beberapa jam saja.  

Ajo Kawir adalah seorang pria yang sudah berbicara dengan kemaluannya sejak usia belasan. Dia belajar berbicara dengan 'burungnya' setelah mengalami peristiwa yang membuatnya tak dapat bergairah dengan wanita. Burungnya mati total dan teronggok tak berdaya.  

Ajo Kawir yang kini berprofesi sebagai supir truk semakin frustrasi dibuatnya, begitu pun Tokek, sahabatnya. Berbagai cara dilakukan agar burung kembali hidup tetapi hasilnya  nihil. Iwan Agus, ayah Tokek sudah mencoba berbagai cara untuk menghidupkan sang burung. 

Iwan Agus membantu Ajo Kawir melumuri si burung dengan cabai rawit dan menyengatkan sengat lebah. Iwab bahkan memakai jurus pamungkas yaitu menyewa perempuan malam yang berpengalaman untuk menghidupkan burung Ajo Kawir. Hasilnya? Tetap teronggok lemas.

Ajo Kawir menggambarkan burungnya tampak seperti kepala seekor kura-kura yang tertidur dengan malas. Si Burung tampak tak menginginkan apa pun di dunia ini. Tak ingin bangun, tak ingin menggeliat dan tak ingin memperoleh sentuhan perempuan. Akhirnya perempuan malam, Tokek dan Iwan Agus berkesimpulan sama. Hanya Tuhan yang bisa menolong kondisi Ajo Kawir.

Peristiwa matinya sang burung, mengilhami Ajo Kawir untuk membuat lukisan di belakang truk yang dikendarainya. Kata Ajo Kawir, ia sendiri yang membawa truk itu ke seseorang mahasiswa seni rupa di Yogya. 

Ajo Kawir memilih gambar yang berbeda dengan pilihan supir truk lainnya. Ajo Kawir memilih lukisan besar bergambar seekor burung yang tampaknya tengah tertidur pulas, nyaris menyerupai burung mati. Untuk mempermanis lukisannya, Ajo Kawir menuliskan kata-kata ,”Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas di atas gambar burung itu. Benar-benar menggambarkan dan menegaskan kondisi hidupnya yang menggenaskan secara keseluruhan.

Saat Ajo Kawir mulai pasrah menerima kondisinya, hatinya malah tersangkut kepada seorang gadis Jawara bernama Iteung. Timbul niat hati Ajo Kawir untuk memberi kepuasan kepada wanita yang jago bermain silat ini. Ajo mendapatkan hati Iteung setelah melewati sebuah pertempuran fisik yang dahsyat dan mendapatkan babak belur di sekujur tubuhnya.  

Memang cinta datang tak pernah di duga. Saat jatuh cinta dengan Iteung, muncullah perempuan lain bernama Jelita. Tak seperti namanya Jelita adalah perempuan buruk rupa.  Bagi Ajo, rupa Jelita mampu membuat pria mana pun kehilangan selera dan berhasil mengurungkan birahi panasnya. 

Melalui mimpinya Ajo diberitahu kalau Jelita adalah obat penawar bagi burungnya. Siapakah yang akan dipilih Ajo Kawir? Iteung sang jawara atau  Jelita, seorang perempuan yang menumpang truknya karena ingin berlari dari tirani suaminya? Adakah hal atau orang yang bisa menegakkan kembali barang pusaka Ajo? Akankah Ajo berdamai dengan dirinya dan menerima kondisi yang dihadapinya?

Selama membaca novel ini, aku tak henti-hentinya dibuat tertawa dan terkaget-kaget. Bagiku novel Eka Kurniawan ini adalah komedi tragedi. Pembaca diajak tertawa sekaligus miris dengan kondisi masyarakat kelas bawah yang disoroti di sepanjang cerita. 

Penyampaian Eka yang sederhana sangat khas karena kaya kritik dan sentilan sosial di dalamnya. Salah satunya kritik terhadap kesewenang-wenangan pria kepada wanita. Eka menuliskan “Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala. Itu yang kupelajari dari milikku selama bertahun-tahun ini.” (halaman 125)

Nilai lain yang bisa diambil adalah nilai persahabatan di dalamnya. Aku tak sabar melihat persahabatan Tokek dan Ajo divisualkan di dalam film. Tokek bahkan bernazar tidak akan menikah sebelum burung Ajo Kawir bisa diselamatkan. Walau tak sedarah tapi mereka disatukan oleh hati. 

Ada juga isu pelecehan seksual yang dipaparkan di banyak bagian buku. Bagaimana seorang pendidik dan pengayom masyarakat menggunakan kuasanya menundukkan makhluk lemah demi nafsunya. Aku juga suka dengan tokoh-tokoh pendukung di dalamnya. Selain Tokek, Ajo Kawir dan Iteung, ada juga Mono Ompong, Si Macan, Jelita, Iwan Angsa, Paman Gembul, Iwan Angsa, dan Wa Sami. Penggambaran tokohnya yang dekat dan membumi dengan kondisi masyarakat kebanyakan.

Pilihan kata di novel ini berani, spontan, sederhana, dan apa adanya. Rangkaian alur yang dibuat pun sangat meliuk-liuk lancar, semakin menambah rasa penasaran untuk meneruskan cerita sampai akhir. 

“Kamu belajar apa dari burungmu, Ajo Kawir?”

“Hidup dalam kesunyian. Tanpa kekerasan, tanpa kebencian. Aku berhenti berkelahi untuk apa pun. Aku mendengar apa yang diajarkan si Burung."

Di novel ini pembaca disuruh membuka selubung kesopanan. dan berhenti menjadi polisi moral. Banyak kata vulgar dan umpatan disajikan di dalamnya untuk menjelaskan kondisi yang dihadapi Ajo Kawir. Aku sungguh penasaran dengan adaptasi dialog tokoh di dalamnya. Bagaimana ya cara mereka memperhalus kata-kata Ajo Kawir? Jangan sampai film ini akan penuh sensor. Sungguh tak asyik dan mengurangi nilainya. Semoga tidak, ya. Akhirnya, novel ini jauh dari kata membosankan. Silakan dibaca dan buktikan sendiri. Kau bisa meminjam bukunya di IPUSNAS, ya. Salam. 


Judul Buku: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis: Eka Kurniawan

Tahun terbit: April 2014

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 244 halaman

ISBN: 978-602-03-0393-2

e-ISBN: 978-602-03-9192-2 

Genre: Fiksi, Drama


Medan, 20 April 2021.

Penulis: Maria Julie Simbolon

 

#Ulasan

#30HariBlogBer8

#BloggerMedan

@Blogger_Medan

 


 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerja dari Rumah? Sekarang Saatnya!

Asus Vivobook Go 14 , Laptop Ekonomis Terbaik untuk Mahasiswa Produktif

All The Bright Places: Tetaplah Menolong Walaupun Kondisimu Juga Butuh Pertolongan