Cinta Gila Kang Sulih Teks Film Bajakan dan Neng Terapis Salon

 


Sumber Gambar: Unsplash

Awalnya aku tertarik menonton film ini karena kepincut dengan akting Romo Yosef alias Chicco Jericho di film Ave Maryam (2019). Aku baru tahu kalau aktingnya cukup baik dan menarik. Ke mana saja aku selama ini ? Hahahahaah. Berbeda dengan pemeran utama wanitanya, Tara Basro, aku sudah mengikuti aktingnya di Pengabdi Setan.

Aku menonton film ini tanpa informasi apapun. Bahkan aku memilih untuk tidak membaca ulasannya dulu. Alasannya supaya bisa menikmati kejutan yang ditawarkan film ini. Marjul, pembaca tak perlu informasi yang kurang penting ini. Hahahha. Kita lanjut saja ke ulasan, ya. Cus…..

Di awal film dikisahkan Sari (Tara Basro), seorang terapis khusus perawatan wajah (facial) di sebuah salon kecil bertemu secara tak sengaja dengan Alex (Chicco. J), seorang sulih teks film di toko kaset. Singkatnya kerjaan si Alex ini adalah tukang subtitle. Macam Lebah Ganteng, Pein Akatsuki, dll. Hampir semua film berbahasa Inggris di toko itu adalah karya terjemahan Alex.

                                                                                                        Sumber Gambar: Google Images

Saat itu Sari hendak protes ke pemilik toko. Sari tidak terima dengan hasil sulih teks yang dikerjakan Alex. Hampir semua kaset film yang dibelinya mempunyai teks terjemahan yang kacau.

Menghadapi situasi kurang mengenakkan, Alex pun menawarkan Sari untuk mengikutinya ke kosan. Alex beralasan kalau dia memiliki banyak film asli di kost-annya. Bahkan beberapa film belum tayang di bioskop. Ceilehhh, bisa-bisanya si Alex saja itu, Pemirsa. Ahahaha.

Alex adalah seorang pria berusia tiga puluhan yang tidak tercatat ada di dunia ini. Kok bisa? Dia tidak memiliki kartu tanda penduduk dan identitas resmi lainnya. Bahkan tidak memiliki tempat untuk pulang. Dia memilih ngekos secara gratis di sebuah rumah berlantai dua. Alex tinggal berdua dengan Bude, ibu kostnya yang sudah tua dan ditelantarkan anak-anaknya. Setiap hari, sepulang dari menjual teks film, Alex akan menyempatkan diri membeli nasi bungkus untuk Bude yang nyaris tak pernah beranjak dari depan televisi. Saban hari kerja Bude hanya diam dan memegang raket nyamuk. Aku jadi teringat sama Mamaknya si Joker (2019). Persis kek gitu keadaannya Bude.  Kasihanlah pokoknya.


                                                                                                    Sumber Gambar: Google Images

Pertemuan itu membuat keduanya terlibat dalam cinta yang penuh gairah. Tiada hari kelakuannya yang dua ini tanpa ewitwut. Di gas terusssss sampai penonton sor juga melihatnya. Hahahahaha. Si Sari pun dengan cepat lupa pulang ke kosannya sendiri. Setiap hari, setelah pulang bekerja di salon, Alex sudah menjemput dan memboyongnya ke rumah Bude. Kerjaan mereka ya cuma tiga. Ewitwut, nonton film dan memberi makan Bude. Kek gitu memang kalau sudah jatuh cinta. (Sok tahu si Marjul ahahahahah).

Satu hari Alex menghilang dari kost-annya. Sari kebingungan mencari Alex yang pergi tanpa membawa identitas apa pun. Kepergiannya bagai ditelan gelapnya malam. Kemana Alex pergi? Apakah ini berhubungan dengan kaset yang dicuri Sari dari salah satu klien salonnya?

Biar kuterangkan sikit. Si Sari ini ada juga penyakitnya. Suka kali mencilok alias mencuri kaset. Pening kepala berbi dibikinnya. Silap sikit mata orang meleng ke arah lain, langsung masuk semua ke balik bajunya. Sari… Sari…

Film ini berhasil membawa pulang sejumlah penghargaan di Festival Film Indonesia 2015. Antara lain sutradara terbaik, pemeran utama wanita terbaik dan tata suara terbaik. Film berbujet hanya 150 juta ini tidak hanya berhasil memukau penonton dalam negeri. Peminatnya bahkan sampai memenuhi bioskop di Thailand dan Toronto. Bujet minim membuat Joko Anwar memilih tak melibatkan rumah produksi milik orang lain. Bahkan para pemain dan kru tidak dibayar sebelum tayang di bioskop komersil.

Film ini berawal dari keikutsertaan Joko Anwar dalam membuat ide cerita film di kompetisi Asian Project Market di Busan Film Festival, Korea Selatan. A Copy of My Mind berhasil terpilih menjadi dua puluh besar ide cerita terbaik di ajang itu. Sebagai hadiah, mereka mendapatkan uang 10.000 dolar atau kurang lebih senilai 150 juta rupiah.

Seperti film Joko Anwar yang lain, film ini pun kental dengan intrik dan kritik sosial. Realita kehidupan masyarakat kelas bawah, para pekerja rendahan dan kasus korupsi yang bisa diperjualbelikan digambarkan dengan sangat nyata. Wajah asli Jakarta digambarkan dari sudut pandang pemukiman padat penduduk. Jalan-jalan yang dilalui Sari dari pagi subuh melewati banyak gang sempit. Pekerja rendahan yang hanya sanggup memimpikan memiliki home theatre di rumahnya dan sisa gajinya hanya untuk menyeduh mie instan. Fakta uniknya, di hari pertama syuting, Sari ( Tara Basro) menghabiskan tujuh bungkus mie instan.

Oh ya, ada juga penampilan spesial (cameo) dari si Kekar, Ario Bayu. (Catet si Kekar! hahahahaha)

Hal yang paling kusuka dari film ini adalah Joko Anwar menampilkan dialog, kemiskinan dan kesederhanaan apa adanya. Tak ada eksploitasi kesedihan di dalamnya. Semuanya gamblang saja. Aku yang menonton pun cukup relate dengan keadaan yang disorot sepanjang film. Mirip-mirip jugalah bobroknya dengan keadaan di daerah bagian lain.

                                                                                                        Sumber Gambar: Google Images

Kekuatan film ini dimulai dari sudut pandang dan selipan perjuangan kelas bawah untuk bertahan hidup, kritik tentang pembajakan yang masih marak, kritik sosial lainnya, karakter tokoh yang kuat, dan alur cerita yang (sudah pasti) mengaduk emosi penonton.  Hanya saja, aku, yang awam tentang film ini, masih merasa kurang dengan akhir film. Mungkin karena ini film berkelas festival, ya. Banyak intrik dan hal-hal yang tak perlu diterangkan secara eksplisit. Untuk film berbujet sangat minimal, film ini sangat berkualitas. Bahkan melebih ekspektasi. 

Bagaimana kisah akhir dari Sari dan Alex? Apakah keputusannya pindah ke salon yang lebih mewah membawa malapetaka untuk keduanya? Kamu bisa saksikan film ini di mana-mana. Cari saja sendiri, ya. Hahahahahahahha. Salam.

 

Judul Film : A Copy of My Mind

Produser : Tia Hasibuan dan Uwie Balfas

Penulis Naskah : Joko Anwar

Sutradara : Joko Anwar

Durasi : 118 menit

Tayang Perdana : 11 Februari 2016

Pemain : Tara Basro, Chicco Jerikho, Ario Bayu

Produksi : Lo-Fi Flicks, CJ Entertainment, Korea

Tata Suara : Khikmawan Santosa dan Yusuf A. Pattawari

Genre : Drama

Rating : 4.2/5


Penulis: Maria Julie Simbolon

Medan, 27 April 2021 

#Ulasan

#UlasanFilm

#30HariBlogBer15

#BloggerMedan


Komentar

  1. Terima kasih ulasannya Kak Marjul, bikin penasaran sama filmnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kembali kasih, Mba Winda. Terima kasih sudah menyediakan waktu membaca tulisanku. Salam.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerja dari Rumah? Sekarang Saatnya!

All The Bright Places: Tetaplah Menolong Walaupun Kondisimu Juga Butuh Pertolongan

Mewujudkan Rumah Impian, Pilih Beli Kavling Tanah atau Rumah Jadi?