All The Bright Places: Tetaplah Menolong Walaupun Kondisimu Juga Butuh Pertolongan


Judul Film : All The Bright Places

Judul Buku : All The Bright Places Live Life at Full Brightness

Produser : Elle Fanning, Mitchell Kaplan, David S. Greathouse, Andrew Spaulding, Brittany Kahan, Paula Mazur, Doug Mankoff

Penulis Buku : Jennifer Niven

Penulis Skenario :  Jennifer Niven, Liz Hannah

Sutradara : Brett Haley

Durasi : 108 Menit

Tayang Perdana : 28 Februari 2020

Tayang di : Netflix

Pemain : Elle Fanning, Justice Smith, Alexandra Shipp, Luke Wilson

Produksi : Echo Lake Entertainment, Mazur/Kaplan Company, Demarest Media

Bahasa : Inggris

Genre : Drama

Rating : 4.8/5


Awal tahun ini, aku akan membahas satu film yang didedikasikan untuk orang-orang atau keluarga penderita kesehatan mental, sedang berkeinginan bunuh diri, tidak memiliki harapan, atau sedang berduka. Tertarik? Cekidot!

Adakah yang masih ingat lokasi pertama sekali berjumpa sama pacar, partner, suami, istri atau siapa ajalah yang dirimu kasihi? Di café? Di lapangan? Di kantor? Di MRT? Atau di sekolahan? Bagaimana bila di jembatan saat ingin bunuh diri? Hah? Iya. Dirimu tidak salah baca.

Violet Markey, gadis SMA di Indiana, berdiri di tepian jembatan saat dini hari. Niatnya tentu terjun dan meninggalkan dunia yang fana ini. Tak disangka, Theodore Finch yang sedang berlari pagi melihatnya. Setelah diyakinkan untuk mengurungkan niat, Violet pun batal melakukannya. Usut punya usut ternyata Violet sedang berjuang menghadapi Survivor Guilt Syndrome. Apa itu? kondisi mental ketika seseorang percaya dia salah telah selamat dari tragedi atau kecelakaan sedangkan orang lain yang bersamanya di saat kejadian malah meninggal.

Sembilan bulan sebelumnya, Violet dan Eleanor, kakaknya kecelakaan di sisi jembatan tempatnya hendak bunuh diri. Akibat kecelakaan itu Eleanor meninggal dunia. Padahal sang kakak adalah soulmatenya Violet. Mereka menulis blog dan melakukan banyak hal menyenangkan bersama.

Violet yang awalnya ceria dan populer di sekolah memilih menarik diri dari pergaulan dan lebih memilih menyendiri. Dia berjanji tidak akan menulis lagi, tidak akan ke kamar almarhumah kakaknya lagi dan tidak akan menyentuh mobil. Kemana-mana hanya jalan kaki dan naik sepeda. Kompleks, ya? Sabar. Kita ke sisi si Finch. Lebih kompleks ceritanya si Finch? RHS. Rahasia. Hahahah. Lanjut baca lah nahhh.

Bagaimana dengan Finch? Finch adalah seorang anak laki-laki dari ras kulit hitam. Hobinya menjelajah tempat-tempat seru di sekitar Indiana, menulisi sticky notes, patuh berkendara, dan suka menghilang selama berminggu-minggu.

Di rumah, Finch hanya tinggal bersama kakaknya, Kate. Ibunya lebih sering melakukan perjalanan bisnis. Bapaknya? Kawin lagi sama pelakor setelah melakukan kekerasan fisik kepada keluarganya. Sudah mulai melihat titik kosong di diri Finch, kan? 

Di sekolahan, pekerjaan Finch hanya tiga. Dibully, mengacau dan diam tidak melakukan apapun. Hal ini membuat sekolah mewajibkan dia melakukan konseling dengan psikolog di sekolahnya. Sepanjang cerita, Finch selalu menolak mengatakan apa diagnosanya.

Dia selalu berkata, “Manusia suka melabel sesuatu. Manusia suka mengotak-ngotakkan orang lain yang berbeda. Menjauhi orang yang berantakan. Mereka bernafsu mengubah orang lain agar sama dengannya dibandingkan harus menerima perbedaan.” Sikapnya yang sering tidak kooperatif, membuat dia dijuluki si Aneh.

Setelah kejadian di jembatan, Finch pun berusaha menjalin pertemanan dengan Violet. Voila! Semesta seolah merestui, Finch ternyata satu sekolah bahkan satu kelas pelajaran geografi dengannya.

Satu ketika, ada tugas dari guru geografi. Proyek bersama seorang teman sekelas untuk menjelajah tempat yang menarik dan jarang dikunjungi di Indiana. Finch pun melakukan berbagai cara untuk membujuk Violet agar mau bersama dengannya menyelesaikan tugas ini. Berhasilkah Finch membujuk Violet? Kau bisa saksikan sendiri filmnya, ya. Aku beri rating 4.8 walau IMDB beri ratingnya tiga koma sekian.

Beberapa kutipan yang menjadi favoritku di film ini adalah, “Tersesat bukan masalah, asal kau menemukan jalan pulang”, “Finch mengajariku bahwa ada keindahan di tempat yang tidak terduga”, “Bahkan tempat terburuk pun bisa indah, asalkan kau meluangkan waktu untuk melihat”, dan “Dia mengajariku untuk tak perlu mendaki gunung untuk berdiri di puncak dunia”.

Sinematografi film ini tak perlu diragukan karena landscape tempat-tempat indah dan lainnya benar-benar memanjakan mata. Danau, daun kering, kapel pengharapan dan pohon sepatu adalah beberapa shoot lokasi favoritku di film ini.

Kemistri kedua pemain utama serta tokoh figuran pun tak perlu diragukan lagi. Aku memfavoritkan kedua sahabat Finch. Walau dijotos dan dicuekin tetap sayaaaaang (pakai nada upin ipin bacanya) sama sahabatnya.

Semangat muda, keresahan di masa remaja, kesehatan mental dan perjuangan kembali ke jalur yang seharusnya adalah beberapa hal yang menjadi perhatian di film ini. Singkatnya, aku merekomendasikan film ini untukmu.

Oh ya, di bagian paling awal tulisan ini, aku menulis Tetaplah Menolong Walaupun Kondisimu Juga Butuh Pertolongan. Ini hal yang menjadi bahan kontemplasi setelah aku menonton film ini. Sebagai survivor kesehatan mental, belakangan aku lebih memperhatikan kondisi diriku dibandingkan orang lain. Aku belajar mencintai, mengasihi dan memperbaiki diriku dulu deh. Setelahnya baru menolong orang lain. Namun, setelah membaca film ini aku menjadi merenung kembali. Bagaimana denganmu? Share juga ya pengalamanmu setelah menonton ini. Salam.

 

Medan, 16 April 2021.

 

Penulis: Maria Julie Simbolon

 

#30HariBlogBer4

#BloggerMedan

@Blogger_Medan

 

Komentar

  1. Aaa, dari reviewnya sudah menarik. otw di cari di penyedia streaming film :')

    BalasHapus
  2. "TETAPLAH MENOLONG WALAUPUN KONDISIMU JUGA BUTUH PERTOLONGAN" dan yang berputar-putar dalam otakku belakangan ini "Gak usah sok-sokan nolong orang, kau aja butuh pertolongan"

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Senina. Namun tetap prioritaskan kesehatan diri dan mental kita, ya. Takar berapa persen energimu bisa kaubagikan untuk involve dengannya. Kita tidak perlu membakar diri sampai habis kok untuk menolong yang lain. Hihihihih. Terima kasih sudah dibaca, Sen.

      Hapus
  3. Waah weekend ini aku nonton ah, thanks reviewnya, penasaran aku sama Violet, soalnya aku baru kehilangan adik kandungku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelumnya kuucapkan turut berdukacita ya, Mba. Doaku bersamamu.
      Silakan ditonton, ya. Terima kasih sudah dibaca, ya.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Iya, Kak. Buat orang yang punya issue sama dengan kedua tokoh pasti relate banget dengan ceritanya. Terima kasih sudah dibaca ya, Kak Dhilla.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerja dari Rumah? Sekarang Saatnya!

Mewujudkan Rumah Impian, Pilih Beli Kavling Tanah atau Rumah Jadi?